Ikuti dengan Email

Biografi Bapak Pontianus Kromo Martono (Part I)



Biodata
Nama Kecil : Ponijo 
Nama Tua : Pontianus Ponijo Kromo Martono 
Lahir            : 15 Mei 1918
Meninggal : 17 Desember 1997 
Isteri : Pontiana Painah 
Anak :  1. Maria Goreti Sakinem 
                          2. Yusepha Samirah
                          3. Agatha Suwartinem 
                          4. Theodulus Supino 
                          5. Chatarina Supriyantini

Pendidikan : SR kelas 5 (Sekolah Rakyat 2 tahun dan melanjutkan SR selama 5 tahun)


Bapak Kromo yang saat kecil bernama Ponijo merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan umat Katholik di perbukitan Menoreh. Pada masa kecilnya, Bapak Kromo bersekolah di Sekolah Rakyat selama 2 tahun dan melanjutkan ke SR selama 5 tahun di daerah Balong. (Pada saat itu sistem dan jenjang pendidikannya berbeda dengan masa sekarang.) Pada saat mengenyam pendidikan tersebut, beliau tinggal bersama salah satu keluarga Katholik, yaitu keluarga Bapak Raden Sarjana Brata salah satu pegawai Pemda Wates. Ketertarikan terhadap ajaran Katholik mulai tumbuh dan pada akhirnya beliau mantap untuk menganut agama Katholik dan dipermandikan di Gereja Santa Theresia Liseux Boro oleh Romo Prentaler (Romo yang berasal dari Belanda yang bertugas di paroki Boro). Setelah dibabtis, beliau diminta oleh Romo Prentaler untuk lebih mendalami agama Katholik dengan mengikuti Kursus Guru Agama Katholik di Girisonta. Dari situ, berbekal ilmu agama yang telah didapatkan, beliau mengemban tugas sebagai pengajar agama dibeberapa sekolah dasar negeri, seperti SDN Jatiroto, SDN Ngargo Wahono, SDN Kalirejo dan SDN Wonosari. Saat itu beliau diperjuangkan agar dapat diangkat menjadi pegawai akan tetapi tidak berhasil sehingga beliau berhenti mengajar di sekolah dan mulai mengajar agama di berbagai wilayah sekitar Desa Purwosari dan Kebonharjo. 


Kehidupan Menggereja
Pada waktu itu, hanya ada beberapa orang yang telah menganut agama Katholik di daerah Pelem dan Dukuh, seperti keluarga Bapak Martodiharjo, Bapak Jokarso, dan Ibu Sikem. Bapak Kromo berniat untuk menyebarkan ajaran Katholik ke kalangan yang lebih luas, sehingga beliau mengajar ke bebrapa tempat baik yang dekat maupun yang jauh dari kediaman beliau. Melihat kegiatan dan ke aktifan Bapak Kromo dalam mengajarkan agama, kegiatan keagamaan yang pada awalnya bertempat di daerah Pelem dialihkan oleh Romo Prentaler ke rumah Bapak Kromo yang berada di daerah Dukuh yang lebih mudah dijangkau. Bapak Kromo merelakan sebagian rumahnya untuk dipakai sebagai tempat kegiatan keagamaan. Pada awalnya hanya ada 3 keluarga yang mengikuti misa perdana di tahun 1946 tersebut, yaitu keluarga Bapak Martodiharjo, Bapak Jokarso, dan Bapak Kromo Martono.  Pada tahun 1950an, Bapak Kromo resmi menyumbangkan rumah tersebut untuk gereja. Pada tahun 1967, rumah itu dijual dan dengan ditambah dari swadaya umat dan romo, dan pada akhirnya mampu membeli rumah joglo untuk dipakai sebagai gereja. 
Delapan tahun berselang, tepatnya tahun 1975, joglo tersebut dipindahkan ke Gunung Pengilon yang merupakan tanah OO (oro-oro) atau tanah tidak bertuan yang status kepemilikannya yaitu milik negara. Pemindahan tempat gereja pada saat itupun tidak mudah. Pada awalnya gereja akan didirikan di kawasan Gunung Gilingan (yang sekarang didiami oleh keluarga Bapak Tarno), telah dibatur dan dipersiapkan tetapi ada pertimbangan lain yaitu kurang nyamannya tempat tersebut dikarenakan sangat berangin. Selain itu, gereja telah membeli tanah di daerah Sabrangkidul untuk mendirikan bangunan gereja. Namun lagi-lagi tidak terlaksana dikarenakan tanah tersebut menjadi tanah sengketa.  Kemudian pemerintah desa, memberikan lahan seluas 2500 meter persegi di Gunung Pengilon untuk didirikan gereja. Sejak saat itulah berdirilah bangunan gereja di tempat tersebut hingga kini.  
Umat Katholik sedikit demi sedikit bertambah dan kegiatan keagamaan juga semakin aktif. Romo hadir di Pelem Dukuh selapan hari (40) hari sekali untuk mengadakan misa. Namun setiap Minggu tetap diadakan aktifitas keagamaan berupa ibadat sabda yang dipimpin oleh Bapak Kromo sendiri.
Pada waktu itu, telah ada kepengurusan dewan stasi yang jelas. Administrasi Stasi Pelem Dukuh masih berada dibawah paroki Nanggulan, namun sejak tahun 1975 Pelem Dukuh menjadi stasi otonom yang mengurus keadministrasian secara mandiri. 

Bersambung ke Part II klik disini

Narasumber : Ibu.  Maria Goreti Sakinem dan Bpk.  Theodolus Supino 

1 comment: